Artikel

Mengapa Kita Harus Belajar Tauhid?

D

Posted by. Deli Hermanto

18 September 2026 15:59 โ€ข 25 view

Share:
Mengapa Kita Harus Belajar Tauhid?
Kylekarbowski. (Pexels.com)

Mengapa Kita Harus Belajar Tauhid?

Ada banyak ilmu yang dipelajari manusia sepanjang hidupnya. Kita belajar membaca, menulis, bekerja, berdagang, mengelola kehidupan, bahkan mempelajari berbagai ilmu yang berkaitan dengan dunia. Namun, di antara sekian banyak ilmu tersebut, ada satu ilmu yang semestinya mendapatkan perhatian paling besar dari seorang Muslim: ilmu tauhid.

Sebab tauhid bukan sekadar salah satu cabang ilmu agama. Tauhid adalah pokok dari segala pokok. Ia merupakan pondasi yang menjadi dasar bagi seluruh amal seorang hamba.

Jika pondasinya kokoh, bangunan dapat berdiri dengan tegak. Namun jika pondasinya rapuh, sebanyak dan seindah apa pun bangunan yang didirikan, ia tetap berada dalam bahaya kehancuran.

idTech Solutions

Butuh berbagai solusi aplikasi teknologi?

Tim ahli idTech Solutions siap membantu berbagai macam kebutuhan teknologi anda.

HUBUNGI KAMI SEKARANG

Demikian pula kehidupan seorang Muslim.

Tauhid adalah kewajiban pertama seorang hamba

Para ulama menjelaskan bahwa perkara pertama yang wajib diketahui seorang hamba adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan tauhid.

Bagaimana mungkin seseorang menyembah Allah jika ia tidak mengenal siapa Rabb yang disembahnya?

Karena itu, mengenalkan tauhid kepada anak-anak sejak mereka mulai memahami pembicaraan merupakan perkara yang sangat penting. Anak tidak hanya perlu diajarkan membaca dan menghafal, tetapi juga diperkenalkan kepada Rabb-nya.

Pertanyaan sederhana seperti, "Siapa yang menciptakanmu?" atau "Di mana Allah?" menjadi bagian dari upaya menanamkan keyakinan kepada Allah sejak dini.

Ini menunjukkan bahwa tauhid bukanlah ilmu yang hanya diperuntukkan bagi para ustaz atau orang yang telah dewasa. Tauhid adalah kebutuhan setiap Muslim. Ia perlu dipelajari oleh orang tua, anak-anak, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.

Kita tidak diciptakan tanpa tujuan

Renungkanlah keberadaan kita di dunia.

Apakah manusia hadir dengan sendirinya?

Apakah kehidupan ini terjadi tanpa pencipta?

Seorang Muslim meyakini bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena kita diciptakan, maka tentu penciptaan tersebut memiliki tujuan.

Bahkan sesuatu yang sederhana saja biasanya dibuat dengan tujuan tertentu. Sandal dibuat untuk digunakan berjalan. Rumah dibangun untuk ditempati. Kendaraan dibuat untuk membantu manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Jika benda-benda sederhana memiliki tujuan, bagaimana mungkin manusia yang memiliki akal, hati, dan kehidupan yang begitu kompleks diciptakan tanpa tujuan?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu'minun : 115).

Manusia bukan makhluk yang dibiarkan begitu saja. Kehidupan memiliki arah dan tujuan.

Allah kemudian menjelaskan tujuan tersebut dengan firman-Nya:

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Inilah hakikat kehidupan seorang Muslim: beribadah kepada Allah semata.

Para rasul datang membawa tauhid

Allah tidak membiarkan manusia mencari sendiri tujuan hidupnya tanpa petunjuk.

Sebagai bentuk kasih sayang-Nya, Allah mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia.

Dan jika kita memperhatikan dakwah para rasul, kita akan menemukan satu perkara yang selalu menjadi inti ajaran mereka: tauhid.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya : 25)

Nabi Nuh 'alaihissalam menyeru kaumnya agar menyembah Allah semata.

Nabi Hud 'alaihissalam menyeru kaum 'Ad dengan seruan yang sama.

Nabi Shalih 'alaihissalam juga mengajak kaum Tsamud untuk beribadah hanya kepada Allah.

Demikian pula para nabi dan rasul setelahnya.

Dari sini kita memahami bahwa tauhid bukanlah ajaran baru. Tauhid adalah inti dakwah seluruh nabi dan rasul.

Karena itu, siapa saja yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah pada hakikatnya sedang melanjutkan salah satu tugas terbesar yang dibawa oleh para nabi: mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah.

Seluruh ibadah dibangun di atas tauhid

Shalat, puasa, zakat, haji, berbakti kepada kedua orang tua, bersedekah, berbuat baik kepada sesamaโ€”semuanya merupakan amal yang agung.

Namun seluruh amal tersebut harus dibangun di atas tauhid.

Seorang Muslim melaksanakan shalat karena Allah.

Ia berpuasa karena Allah.

Ia bersedekah karena Allah.

Ia berhaji karena Allah.

Ia berbuat baik karena mengharapkan keridaan Allah.

Dengan demikian, tauhid tidak berhenti pada ucapan atau keyakinan di dalam hati. Tauhid harus terlihat dalam ibadah dan kehidupan seorang hamba.

Di sinilah pentingnya mempelajari tauhid secara benar. Sebab seseorang bisa saja merasa telah bertauhid, tetapi tanpa ilmu ia mungkin tidak menyadari bahwa ada perkataan, keyakinan, atau perbuatan yang dapat merusak tauhidnya.

Tauhid dan lawannya: kesyirikan

Mempelajari tauhid juga berarti mempelajari lawannya, yaitu syirik.

Sebagaimana seseorang perlu mengetahui jalan yang benar, ia juga perlu mengetahui jalan yang dapat menjerumuskannya agar dapat menjauhinya.

Syirik merupakan perkara yang sangat besar. Allah memperingatkan manusia agar tidak menyekutukan-Nya dalam ibadah.

Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya mengatakan, "Saya bertauhid." Ia juga perlu bertanya kepada dirinya:

Kepada siapa saya berdoa?

Kepada siapa saya bernazar?

Kepada siapa hati saya bergantung?

Apakah ibadah saya benar-benar ditujukan hanya kepada Allah?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan untuk membuat seseorang mudah menuduh orang lain, tetapi justru untuk mengoreksi dirinya sendiri.

Tauhid mengajarkan seorang hamba untuk membersihkan ibadahnya dari segala bentuk kesyirikan.

Antara mengambil sebab dan menggantungkan hati kepada Allah

Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan sebab.

Ketika seseorang sakit, ia diperbolehkan bahkan dianjurkan berobat. Ia boleh pergi ke dokter dan menggunakan berbagai sarana pengobatan.

Namun seorang Muslim meyakini bahwa dokter hanya menjadi sebab. Yang memberikan kesembuhan pada hakikatnya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Inilah keseimbangan yang harus dijaga.

Mengambil sebab tidak berarti menggantungkan hati kepada sebab tersebut.

Ketika meminta bantuan kepada manusia dalam perkara yang memang mampu dilakukan manusia, hal itu tidak bertentangan dengan tauhid. Seseorang yang lapar boleh meminta makanan kepada temannya. Seseorang yang membutuhkan bantuan dalam perkara yang mampu dilakukan manusia juga boleh meminta pertolongan.

Namun perkara yang merupakan kekhususan Allah tidak boleh dialihkan kepada selain-Nya.

Di sinilah ilmu tauhid menjadi sangat penting. Dengan ilmu, seorang Muslim dapat memahami batas antara mengambil sebab yang dibenarkan dengan menggantungkan hati kepada sesuatu yang tidak semestinya menjadi tempat bergantung.

Tauhid menentukan keselamatan seorang hamba

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim karena ia berkaitan dengan keselamatan manusia di akhirat.

Orang yang bertauhid memiliki harapan besar terhadap rahmat Allah dan surga-Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah menjelaskan tentang kenikmatan yang telah dipersiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang salehโ€”kenikmatan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas dalam hati manusia.

Sebaliknya, kesyirikan merupakan perkara yang sangat berbahaya bagi keselamatan seorang hamba.

Karena itu, belajar tauhid sesungguhnya bukan sekadar menambah pengetahuan. Ia adalah bagian dari upaya menyelamatkan diri.

Jangan merasa cukup dengan pengakuan

Salah satu pelajaran penting dari pembahasan tauhid adalah bahwa pengakuan semata tidak selalu menunjukkan hakikat tauhid.

Bahkan orang-orang musyrik pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, pemberi rezeki, serta pengatur kehidupan.

Namun pengetahuan tersebut tidak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang bertauhid karena mereka masih mempersekutukan Allah dalam ibadah.

Maka tauhid bukan hanya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan.

Tauhid berarti mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah.

Karena itu, ucapan "Allah" semata bukanlah ajaran yang menggantikan kalimat tauhid yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kalimat tauhid adalah La ilaha illallahโ€”tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.

Dakwah dimulai dari keluarga

Ilmu yang kita pelajari tidak semestinya berhenti pada diri sendiri.

Ketika seseorang mendapatkan ilmu, hendaknya ia berusaha menyampaikannya kepada orang-orang terdekat dengan cara yang baik.

Mulailah dari keluarga.

Ajarkan kepada anak-anak tentang siapa Rabb mereka. Ajarkan mereka untuk mencintai Allah. Ajarkan mereka bahwa hanya Allah tempat mereka beribadah dan bergantung.

Begitu pula ketika melihat kesalahan dalam keluarga, nasihatilah dengan ilmu dan kelembutan.

Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang keras. Bahkan dalam dakwah kepada orang tua, bahasa yang lembut dan penuh penghormatan justru lebih layak dikedepankan.

Tujuan dakwah bukan memenangkan perdebatan, melainkan mengajak manusia menuju kebenaran.

Selama masih hidup, pintu hidayah masih terbuka

Di antara pelajaran yang juga penting adalah bagaimana seorang Muslim menyikapi anggota keluarga yang keluar dari Islam.

Selama orang tersebut masih hidup, seorang Muslim masih diperintahkan untuk mendoakan agar Allah memberikan hidayah kepadanya.

Kisah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bersama ibunya memberikan pelajaran tentang hal ini. Ketika ibunya belum menerima Islam, Abu Hurairah meminta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakannya. Allah kemudian memberikan hidayah kepada ibunya.

Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh cepat berputus asa terhadap hidayah seseorang.

Selama kehidupan masih ada, pintu untuk kembali kepada Allah masih terbuka.

Namun apabila seseorang meninggal dalam keadaan tidak beriman, seorang Muslim tidak lagi mendoakannya dengan doa ampunan sebagaimana bagi kaum Muslimin.

Tauhid harus menjadi bahan introspeksi

Pada akhirnya, belajar tauhid bukan sekadar untuk mengetahui istilah-istilah agama.

Tauhid seharusnya membuat kita lebih sering memeriksa diri.

Apakah ibadah kita benar-benar hanya untuk Allah?

Apakah ketika mendapatkan kesulitan kita tetap menggantungkan hati kepada Allah sambil mengambil sebab yang dibenarkan?

Apakah kita telah menjauhkan diri dari praktik-praktik yang dapat merusak tauhid?

Apakah kita sudah mengajarkan tauhid kepada anak-anak kita?

Dan apakah ilmu yang kita pelajari sudah kita sampaikan kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena manusia sering kali lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada memeriksa keadaan dirinya sendiri.

Tauhid adalah awal perjalanan menuju Allah

Belajar tauhid pada akhirnya adalah belajar memahami siapa diri kita dan untuk apa kita diciptakan.

Kita adalah makhluk.

Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta.

Kita adalah hamba.

Allah adalah Rabb yang berhak disembah.

Kita hidup di dunia bukan tanpa tujuan.

Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Maka semakin seseorang memahami tauhid, semestinya semakin ia menyadari betapa besar kebutuhan dirinya kepada Allah.

Tauhid bukan hanya sebuah materi kajian. Ia adalah pondasi kehidupan.

Dari tauhid lahir keikhlasan. Dari tauhid lahir ketundukan. Dari tauhid lahir rasa takut dan berharap hanya kepada Allah. Dan dengan tauhid seorang hamba berjalan menuju keselamatan yang hakiki.

Karena itu, jangan merasa telah selesai mempelajari tauhid hanya karena telah mengetahui definisinya.

Teruslah belajar.

Teruslah memperbaiki ibadah.

Teruslah mengoreksi hati.

Dan ajarkan kebaikan yang telah kita ketahui kepada keluarga dengan hikmah dan kelembutan.

Sebab kehidupan seorang Muslim pada akhirnya adalah perjalanan untuk kembali kepada Allah dalam keadaan membawa tauhid yang benar.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meneguhkan hati kita di atas tauhid, menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan, memberikan hidayah kepada keluarga kita, serta mewafatkan kita dalam keadaan bertauhid kepada-Nya.

Aamiin.


* Faedah Kajian Online bersama Ustadz Ridho Handika Putra dari Darul Hadits Sayhut, Yaman, Jumat, 18 September 2026, dalam pembahasan Kitab 100 Tanya Jawab Mengenai Tauhid


https://www.pexels.com/photo/brown-desert-under-the-blue-sky-9968067/

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!