Kajian Kitab Syarah Kitab At-Tauhid : Bab - Hasbunallahu wa Ni'mal Wakil (Ketika Hati Sepenuhnya Bersandar Kepada Allah)
Narasumber : Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, MM
Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini
ู ููู ุฏูููู ุนูููู ุฎูููุฑู ูููููู ู ูุซููู ุฃูุฌูุฑู ููุงุนููููู
"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).
Alhamdulillah, senantiasa kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala limpahan karunia, rahmat, serta kenikmatan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in, serta seluruh pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman.
Kaum Muslimin Rahimani wa rahimakumullah,
Pada kesempatan kali ini, kita kembali melanjutkan pembahasan seputar Bab Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pembahasan kita telah sampai pada dalil kelima sebagaimana yang dicantumkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala dalam kitab beliau.
Dalil kelima ini mengangkat kalimat yang agung:
ุญูุณูุจูููุง ุงูููููู ููููุนูู ู ุงููููููููู
"Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik penolong/pelindung (tempat berserah diri)."
Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'Alaihissalam ketika beliau dilemparkan ke dalam kobaran api. Kalimat ini pula yang diucapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat ketika sebagian orang berkata kepada mereka: "Sesungguhnya manusia (musuh) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka." Namun, gertakan tersebut justru menambah keimanan mereka seraya menegaskan: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." (QS. Ali 'Imran: 173).
Sebelum membedah contoh praktis dari hadits tersebut, mari kita ingat kembali empat dalil yang telah kita lewati:
- Kewajiban Berikhtiar (Kisah Bani Israil - QS. Al-Ma'idah) > Ketika Bani Israil diselamatkan dari Firaun dan diperintahkan memasuki Baitul Maqdis, mereka menolak berusaha. Mereka justru berkata lancang kepada Nabi Musa: "Pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua, kami akan duduk menunggu di sini." Ini adalah contoh kepasrahan yang keliru; berpangku tangan tanpa ikhtiar bukanlah tawakal.
- Tidak Boleh Bergantung pada Harta (QS. Al-Anfal: 1) > Terkait harta rampasan perang (ghanimah), Allah mengingatkan agar kaum mukmin memperbaiki hubungan sesama. Di awal perjuangan, seseorang bisa sangat ikhlas, namun saat materi hadirโbaik itu ghanimah, keuntungan organisasi, maupun harta warisan keluargaโhati mulai goyah dan rawan konflik. Allah menegaskan bahwa harta hanyalah sebab; hati tidak boleh bersandar kepadanya.
- Tidak Boleh Bergantung pada Makhluk (QS. Al-Anfal: 61โ64) > Ketika musuh menawarkan perdamaian, Islam mengedepankan perdamaian. Namun jika mereka berniat berkhianat di balik perjanjian itu, Allah menegaskan: "Fainna hasbakallah" (Cukuplah Allah menjadi pelindungmu). Hati seorang mukmin tidak boleh bergantung pada manusia, relasi, ataupun koneksi semata.
- Tawakal Wajib Dilandasi Ketakwaan (QS. At-Talaq: 2โ3) > Tawakal yang benar harus berpijak di atas ketakwaanโyaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Seseorang yang mencari nafkah lewat jalur haram (seperti mencuri atau riba) lalu berdalih "berpasrah diri", hakikatnya belum bertawakal. Tawakal yang sah diawali ketaatan, barulah kepasrahan kepada Allah.
Secara ringkas, rumus tawakal adalah:
Tawakal = Ikhtiar Maksimal (di atas Syariat) + Menyerahkan Hasil kepada Allah
Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, kita melihat bagaimana tawakal diwujudkan di tengah ujian hidup yang paling berat.
1. Tawakal Nabi Ibrahim 'Alaihissalam di Tengah Api
Nabi Ibrahim berdakwah seorang diri di Babilonia di tengah masyarakat penyembah berhala, bahkan ayahnya sendiri adalah pembuat patung sesembahan tersebut. Ini menegaskan bahwa hidayah mutlak di tangan Allah; kesuksesan dakwah seorang nabi diukur dari penyampaiannya, bukan sekadar jumlah pengikut.
Setelah argumentasi beliau mematahkan logika kaumnya mengenai berhala yang tak berdaya membela diri, mereka kehabisan dalil dan memilih jalan kekerasan fisik: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian!"
Masyarakat mengumpulkan kayu bakar hingga kobaran api membesar tak terhingga, sampai-sampai Nabi Ibrahim harus dilemparkan menggunakan ketapel raksasa. Apakah Nabi Ibrahim tidak berikhtiar? Beliau telah berikhtiar dengan lisan, hujjah, dan daya fisik yang beliau miliki. Namun ketika seluruh daya manusiawi telah habis, kepasrahan total beliau serahkan kepada Allah lewat ucapan:
"Hasbunallah wa ni'mal wakil."
Maka Allah berfirman: "Wahai api, jadilah dingin dan berikanlah keselamatan bagi Ibrahim." Hati beliau tenang karena tidak bersandar pada kekuatan dirinya sendiri, melainkan pada Rabb semesta alam.
2. Tawakal Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam Pasca Perang Uhud
Pasca peristiwa Uhud, kaum muslimin berada dalam kondisi luka dan kelelahan fisik. Terdengar kabar bahwa pasukan Quraisy berniat kembali untuk menumpas mereka sepenuhnya.
Dalam situasi kritis tersebut, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak berpangku tangan. Beliau mengambil sebab dengan segera mengumpulkan kembali para sahabat untuk menyongsong musuh di Hamra'ul Asad. Di saat yang sama, hati mereka tidak bersandar pada jumlah personil yang tersisa, melainkan berucap: "Hasbunallah wa ni'mal wakil." Allah pun memberikan perlindungan dan membatalkan niat musuh.
Kalimat Hasbunallah wa ni'mal wakil bukanlah sekadar wirid di bibir atau mantra penenang saat kondisi terjepit. Kalimat ini kehilangan maknanya apabila diucapkan secara lisan, namun di saat yang sama hati kita masih sepenuhnya bergantung pada saldo rekening, koneksi jabatan, atau pertolongan makhluk.
Hasbunallah berarti menetapkan dalam dada bahwa cukuplah Allah sebagai sandaran, sementara ikhtiar, relasi, dan materi yang kita miliki hanyalah sarana yang digerakkan oleh kehendak-Nya.
Wallahu a'lam bish Shawwab.
* Faedah Kajian Ilmiah bersama Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, M.M dalam pembahasan Kajian Kitab Syarah Kitab At-Tauhid : Bab - Hasbunallahu wa Ni'mal Wakil : Ketika Hati Sepenuhnya Bersandar Kepada Allah, Masjid Al Hakim Nanggalo Padang, Kamis 1 Oktober 2026