Artikel

Menjaga Lisan dan Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat

D

Posted by. Deli Hermanto

19 September 2026 08:11 โ€ข 17 view

Share:
Menjaga Lisan dan Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan rahmat, karunia, dan berbagai kenikmatan yang tidak terhitung jumlahnya. Di antara nikmat besar yang sering kali baru disadari ketika telah berkurang adalah nikmat kesehatan. Dengan kesehatan, seseorang dapat menjalani aktivitasnya, mencari rezeki, menuntut ilmu, membantu sesama, dan yang paling utama, beribadah serta bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Dalam pembahasan tentang kesempurnaan iman, terdapat sebuah hadits yang memberikan gambaran penting tentang hubungan antara iman dan akhlak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Akhlak bukan sekadar bagaimana seseorang bersikap ketika berada di hadapan orang lain. Akhlak merupakan bagian dari keimanan yang tercermin dalam ucapan, perbuatan, sikap, dan cara seseorang memperlakukan manusia di sekitarnya.

Para ulama menjelaskan bahwa akhlak yang mulia memiliki rukun-rukun dan dasar-dasar yang harus diperhatikan. Ibarat sebuah bangunan, akhlak adalah bangunannya, sedangkan rukun-rukunnya merupakan tiang yang menopang bangunan tersebut. Semakin kokoh tiangnya, semakin kuat pula bangunannya.

Di antara rukun tersebut, terdapat dua perkara penting yang perlu menjadi perhatian setiap Muslim: menjaga lisan dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.

Menjaga Lisan, Tiang Utama Akhlak

Rukun pertama dari akhlak yang mulia adalah menjaga lisan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

โ€œBarang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.โ€

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa seorang Muslim tidak seharusnya berbicara hanya karena ia mampu berbicara. Ia perlu mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang akan keluar dari lisannya.

Sebab, perkataan sebelum diucapkan masih berada dalam kendali kita. Kita masih memiliki pilihan untuk mengatakannya atau menahannya. Namun setelah perkataan itu keluar, ia tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Kata-kata yang telah terucap dapat melukai hati seseorang. Ia dapat menimbulkan perselisihan, merusak hubungan, bahkan menjadi sebab seseorang terjerumus ke dalam dosa.

Karena itu, termasuk akhlak yang indah adalah berpikir sebelum berbicara.

Tiga Keadaan Sebelum Berbicara

Setiap kali hendak mengucapkan sesuatu, seorang Muslim dapat memperhatikan setidaknya tiga keadaan.

Pertama, apabila kebaikannya jelas.

Jika seseorang telah yakin bahwa apa yang akan disampaikan merupakan kebaikan, maka hendaknya ia menyampaikannya.

Misalnya memberikan nasihat, mengajarkan ilmu yang benar, membaca Al-Qur'an, berdzikir, mengucapkan salam, berkata jujur, mendamaikan orang yang berselisih, menghibur orang yang sedang bersedih, atau memberikan informasi yang benar dan bermanfaat.

Dalam perkara seperti ini, jangan sampai seseorang justru meninggalkan kebaikan karena terlalu banyak keraguan.

Kedua, apabila keburukannya jelas.

Jika seseorang mengetahui bahwa perkataan yang hendak ia sampaikan merupakan keburukan, maka kewajibannya adalah menahan diri.

Ghibah, dusta, namimah atau adu domba, mengejek, merendahkan orang lain, mencela, dan berbagai bentuk ucapan buruk lainnya merupakan perkara yang semestinya dijauhi.

Tidak sedikit keburukan yang kemudian dianggap ringan karena dibungkus dengan candaan.

Seseorang mungkin berkata, โ€œSaya hanya bercanda.โ€

Namun ukuran dalam syariat bukan sekadar apakah seseorang menganggapnya sebagai candaan. Yang perlu dilihat adalah hakikat perkataannya dan dampaknya.

Jika sebuah candaan mengandung penghinaan, merendahkan kehormatan seseorang, membuka aib, atau menyakiti hati orang lain, maka seorang Muslim hendaknya berhati-hati terhadapnya.

Ketiga, apabila seseorang belum mengetahui apakah perkataan itu baik atau buruk.

Dalam keadaan seperti ini, sikap yang lebih selamat adalah meninggalkannya.

Ketika kita tidak mengetahui dengan jelas manfaat suatu perkataan, sementara ada kemungkinan perkataan tersebut membawa mudarat, maka diam sering kali menjadi pilihan yang lebih aman.

Inilah salah satu bentuk penjagaan terhadap agama dan kehormatan diri.

Menjaga Lisan di Era Media Sosial

Nasihat tentang menjaga lisan menjadi semakin penting di zaman ketika lisan bukan satu-satunya alat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi.

Hari ini, seseorang dapat menyampaikan perkataannya melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, maupun berbagai platform lainnya.

Apa yang dahulu hanya terdengar oleh beberapa orang, sekarang dapat tersebar kepada ribuan bahkan jutaan manusia hanya dalam hitungan detik.

Sebuah komentar dapat di-screenshot. Sebuah status dapat diteruskan. Sebuah tulisan dapat disimpan dan disebarluaskan kembali.

Karena itu, menjaga lisan di zaman digital juga berarti menjaga jari dan tulisan.

Sebelum menekan tombol โ€œkirimโ€, โ€œpostโ€, atau โ€œkomentarโ€, hendaknya seseorang bertanya kepada dirinya:

Apakah ini benar?

Apakah ini bermanfaat?

Apakah ini perlu disampaikan?

Apakah ada kemungkinan tulisan ini menimbulkan fitnah atau permusuhan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini dapat menjadi penghalang seseorang dari banyak penyesalan.

Terlebih dalam perkara yang berkaitan dengan perselisihan, tokoh, guru, ulama, atau kelompok tertentu. Informasi yang kita terima terkadang hanya berupa potongan. Kita belum mengetahui konteksnya secara utuh, tetapi sudah terburu-buru memberikan komentar.

Padahal, informasi yang tidak lengkap dapat menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap pula.

Maka jangan terburu-buru.

Pastikan informasi tersebut benar, pahami konteksnya, dan pertimbangkan dampaknya sebelum ikut menyebarkannya.

Apa yang Kita Tanam, Itulah yang Kita Panen

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan tentang bahaya lisan. Dalam hadits Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa salah satu perkara yang banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka adalah hasil dari apa yang mereka ucapkan.

Ini merupakan perumpamaan yang sangat kuat.

Seorang petani tidak dapat menanam duri lalu berharap memanen buah yang manis. Apa yang ia tanam, itulah yang akan ia panen.

Demikian pula dengan lisan kita.

Jika yang kita tanam adalah perkataan yang baik, nasihat, ilmu, dzikir, kejujuran, dan kalimat yang mendamaikan, maka insya Allah kita berharap mendapatkan hasil yang baik.

Sebaliknya, apabila yang kita tanam adalah kebohongan, ghibah, celaan, fitnah, adu domba, dan perkataan yang menyakiti manusia, maka kita harus takut terhadap hasil yang akan kita tuai.

Maka sudah semestinya seorang Muslim berhati-hati terhadap lisannya.

Rukun Kedua: Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat

Rukun kedua dari akhlak yang mulia adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

โ€œDi antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.โ€

Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memilih apa yang perlu kita ketahui, apa yang perlu kita bicarakan, dan apa yang perlu kita lakukan.

Seorang Muslim tidak dituntut untuk mengetahui segala sesuatu.

Tidak semua informasi harus kita ikuti. Tidak semua persoalan harus kita komentari. Tidak semua urusan orang lain harus kita ketahui.

Ada perkara yang memang menjadi tanggung jawab kita. Ada perkara yang membutuhkan kepedulian kita. Namun ada pula perkara yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kehidupan kita dan tidak memberikan manfaat bagi agama maupun dunia kita.

Maka meninggalkannya merupakan bagian dari kesempurnaan adab.

Bedakan Kepedulian dengan Sekadar Ingin Tahu

Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bukan berarti menjadi orang yang tidak peduli kepada sesama.

Islam justru mengajarkan kepedulian.

Misalnya ketika melihat seseorang jatuh atau mengalami kesulitan di jalan, seorang Muslim hendaknya berusaha membantu jika memang mampu. Itu merupakan bentuk kepedulian yang memiliki manfaat.

Berbeda dengan seseorang yang hanya berhenti untuk melihat, merekam, kemudian menyebarkannya tanpa ada upaya memberikan pertolongan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara kepedulian dan sekadar rasa ingin tahu.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah keikutsertaan kita benar-benar memberikan manfaat, atau hanya karena kita ingin mengetahui sesuatu yang sebenarnya bukan urusan kita?

Pertanyaan tersebut penting agar waktu, perhatian, dan energi kita tidak habis untuk perkara-perkara yang tidak membawa manfaat.

Jangan Berlebihan dalam Perkara yang Mubah

Perkara yang pada asalnya mubah pun dapat menjadi tercela ketika dilakukan secara berlebihan.

Makan dan minum misalnya, merupakan perkara yang dibolehkan. Namun apabila dilakukan secara berlebihan hingga membawa mudarat atau menyia-nyiakan makanan, maka sikap berlebihan tersebut perlu dihindari.

Demikian pula dalam menerima informasi.

Pada zaman sekarang, kita dapat memperoleh informasi dalam jumlah yang sangat banyak hanya dengan membuka telepon genggam. Namun banyaknya informasi tidak selalu berarti banyaknya manfaat.

Terkadang semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin banyak pula kegelisahan yang muncul.

Kita melihat kehidupan orang lain melalui potongan-potongan kehidupan yang mereka tampilkan. Kita mengikuti berbagai perdebatan, konflik, komentar, dan persoalan yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kehidupan kita.

Akhirnya, hati menjadi penuh dengan sesuatu yang tidak perlu.

Karena itu, seorang Muslim perlu belajar memilih dan memilah.

Tidak semua yang bisa diketahui harus diketahui. Tidak semua yang diketahui harus dikomentari. Dan tidak semua yang dikomentari harus disebarkan.

Berhati-hati di Zaman Fitnah

Nasihat ini menjadi semakin penting ketika manusia hidup di tengah derasnya arus informasi.

Perselisihan dapat muncul di antara masyarakat, tokoh, kelompok, bahkan orang-orang yang sebelumnya saling menghormati.

Dalam keadaan seperti ini, seorang Muslim hendaknya tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, terlebih apabila informasi yang diterima masih sepotong-sepotong.

Jangan mudah percaya hanya karena sebuah informasi disampaikan dengan penuh keyakinan.

Jangan pula ikut menyebarkan sesuatu hanya karena banyak orang membicarakannya.

Apalagi jika perkara tersebut berkaitan dengan kehormatan seseorang.

Seorang Muslim hendaknya takut jika lisannya atau tulisannya menjadi sebab tersebarnya sesuatu yang tidak benar.

Dalam perkara yang belum jelas, sikap menahan diri dapat menjadi bentuk penjagaan terhadap agama.

Menjaga Kehormatan Guru dan Para Ulama

Termasuk perkara yang perlu diperhatikan adalah ketika informasi tersebut berkaitan dengan guru atau orang-orang yang selama ini menjadi tempat kita mengambil ilmu.

Kita perlu berhati-hati agar jangan sampai keterburu-buruan dalam menerima informasi membuat seseorang mudah merendahkan atau mencela orang yang menjadi sebab ia mengenal ilmu.

Bukan berarti seseorang tidak boleh mengoreksi kesalahan. Akan tetapi, setiap perkara memiliki adab dan cara yang benar.

Seorang penuntut ilmu hendaknya menjaga lisannya, menjaga prasangka, dan tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi yang belum jelas.

Ilmu bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk adab dalam diri kita.

Jangan sampai seseorang bertahun-tahun belajar ilmu, tetapi kehilangan keberkahan ilmu karena lisannya tidak terjaga dan adabnya kepada manusia semakin buruk.

Akhlak Dimulai dari Hal yang Sederhana

Dua rukun iniโ€”menjaga lisan dan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaatโ€”tampak sederhana. Namun jika benar-benar diamalkan, keduanya dapat memberikan perubahan besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Menjaga lisan berarti belajar diam ketika diam lebih selamat.

Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat berarti belajar berkata kepada diri sendiri:

โ€œIni bukan urusanku.โ€

Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita memahami bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan pada perkara yang tidak mendatangkan manfaat.

Waktu kita terbatas. Umur kita terus berkurang. Maka sudah semestinya perhatian kita diarahkan kepada perkara yang mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Penutup: Jagalah Apa yang Keluar dari Diri Kita

Akhlak yang mulia tidak dibangun dalam satu malam.

Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus dijaga.

Menahan satu perkataan ketika marah.

Tidak membalas komentar buruk.

Tidak menyebarkan informasi yang belum jelas.

Tidak ikut campur dalam perkara yang bukan urusan kita.

Tidak mencari-cari aib orang lain.

Memilih diam ketika perkataan tidak membawa manfaat.

Semua itu mungkin terlihat kecil di mata manusia, tetapi bisa menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar diberikan akhlak yang mulia, lisan yang terjaga, hati yang bersih, dan kemampuan untuk membedakan antara perkara yang bermanfaat dan perkara yang sia-sia.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga lisan kita dari perkataan yang buruk, menjaga tangan dan jari kita dari tulisan yang mendatangkan dosa, menjaga hati kita dari prasangka yang tidak benar, serta menjaga kita dari ikut campur dalam perkara-perkara yang tidak memberikan manfaat.

Semoga ilmu yang kita pelajari tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menambah ketakwaan dan memperbaiki akhlak kita.

Karena pada akhirnya, kesempurnaan iman tidak hanya tampak pada banyaknya ilmu dan ibadah seseorang, tetapi juga tercermin pada bagaimana ia berbicara, bagaimana ia bersikap, dan bagaimana ia memperlakukan sesama.

Wallahu a'lam bish-shawab.

* Faedah Kajian Kitab bersama Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, M.M di Studio Surau TV, Sabtu, 19 September 2026, dalam pembahasan Kitab Ahaditsul Iman Hadits 19 Bag. 3

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!