Artikel

Hakikat Keimanan kepada Allah Al Hakam (ٱلْحَكَمُ) dan Al Adl (ٱلْعَدْلُ)

D

Posted by. Deli Hermanto

21 September 2026 21:29 • 11 view

Share:
Hakikat Keimanan kepada Allah Al Hakam (ٱلْحَكَمُ) dan Al Adl (ٱلْعَدْلُ)
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Hakikat Keadilan Allah

Ada saat-saat dalam kehidupan ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Haknya diambil, kebaikannya tidak dihargai, atau kezaliman yang menimpanya seakan tidak mendapatkan penyelesaian. Ia telah berusaha menjelaskan, tetapi tidak didengar. Ia telah berusaha mempertahankan haknya, tetapi justru disalahkan.

Dalam keadaan seperti itu, seorang mukmin memiliki tempat untuk kembali: Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah adalah sebaik-baik hakim. Tidak ada satu pun perkara yang luput dari pengetahuan-Nya. Tidak ada kezaliman yang tersembunyi dari pengawasan-Nya. Dan tidak ada hak seorang hamba yang hilang di sisi-Nya.

Inilah salah satu buah besar ketika seorang hamba mengenal nama dan sifat Allah. Ia tidak hanya mengetahui bahwa Allah adalah Al-Hakam, tetapi ia meyakini bahwa seluruh keputusan Allah berdiri di atas ilmu, hikmah, dan keadilan.

Allah Tidak Pernah Menzalimi Hamba-Nya

Manusia memiliki keterbatasan. Kita hanya mengetahui apa yang tampak di hadapan mata. Kita tidak mengetahui seluruh kejadian, tidak mengetahui isi hati manusia, dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok.

Karena keterbatasan itu, keputusan manusia terkadang keliru.

Adapun Allah Subhanahu wa Ta'ala, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dia mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi. Dia mengetahui keadaan hamba-Nya sebelum manusia itu mengucapkan sesuatu, dan Dia mengetahui apa yang tersimpan dalam dadanya.

Karena itu, seorang Muslim tidak sepantasnya berburuk sangka kepada keputusan Allah.

Terkadang seseorang menjalani kehidupan yang sulit setelah memilih jalan ketaatan. Ia meninggalkan sebagian kenikmatan dunia demi menjaga agamanya, kemudian melihat orang lain yang jauh dari ketaatan justru hidup dalam kelapangan.

Di sinilah setan berusaha membisikkan keraguan.

"Apakah benar jalan ini lebih baik?"

"Kenapa setelah taat hidupku justru terasa lebih berat?"

Padahal ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya kenikmatan dunia.

Dunia adalah tempat ujian.

Ada yang diuji dengan kekayaan, ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan kesehatan, ada yang diuji dengan sakit. Ada yang diuji dengan kelapangan dan ada yang diuji dengan kesempitan.

Maka jangan menjadikan keadaan dunia sebagai satu-satunya ukuran apakah Allah mencintai atau membenci seorang hamba.

Bisa jadi sesuatu yang kita anggap buruk justru mengandung kebaikan yang belum kita ketahui.

Ketika Hak Kita Belum Kembali

Salah satu perkara yang paling menenangkan hati seorang mukmin adalah keyakinan bahwa keadilan Allah tidak pernah gagal.

Di dunia, orang yang zalim terkadang masih dapat melarikan diri.

Ia bisa bersembunyi.

Ia bisa berganti nomor telepon.

Ia bisa berpindah tempat.

Ia bisa menyangkal perbuatannya.

Bahkan terkadang manusia yang dizalimi tidak mampu mendapatkan kembali haknya.

Namun, tidak demikian di hadapan Allah.

Ada hari ketika seluruh perkara akan dibuka. Hari ketika manusia tidak lagi dapat bersembunyi dari apa yang pernah diperbuatnya. Hari ketika jabatan, harta, popularitas, dan berbagai kebanggaan dunia tidak lagi berguna.

Yang tersisa adalah amal.

Karena itu, jangan pernah merasa bahwa sebuah kezaliman akan hilang begitu saja hanya karena tidak terselesaikan di dunia.

Hak manusia akan dipertanggungjawabkan.

Inilah yang seharusnya membuat seorang mukmin berhati-hati dalam berinteraksi dengan manusia.

Jangan mengambil hak orang lain.

Jangan menipu.

Jangan melakukan pungutan yang tidak dibenarkan.

Jangan mengambil sesuatu yang bukan milik kita.

Jangan merugikan orang lain hanya karena merasa tidak akan diketahui.

Mungkin manusia tidak melihat.

Tetapi Allah melihat.

Ridha terhadap Ketetapan Allah

Keimanan kepada Allah sebagai Al-Hakam juga melahirkan sikap ridha terhadap ketetapan-Nya.

Ada perkara yang masih dapat kita usahakan untuk berubah. Ketika lapar, kita makan. Ketika sakit, kita berobat. Ketika dingin, kita memakai pakaian yang menghangatkan tubuh. Ketika ingin mendapatkan rezeki, kita berusaha mencarinya.

Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan sebab.

Namun ada perkara yang berada di luar kemampuan manusia.

Kita tidak memilih siapa orang tua kita. Kita tidak memilih kapan dan di mana kita dilahirkan. Kita tidak menentukan bentuk tubuh kita, warna kulit kita, tinggi badan kita, ataupun berbagai ketetapan Allah yang berada di luar kemampuan kita.

Pada perkara seperti ini, seorang mukmin belajar menerima keputusan Allah.

Bukan berarti seorang Muslim dilarang berusaha.

Bukan pula berarti seseorang tidak boleh mencari jalan keluar dari kesulitan.

Tetapi setelah berusaha sesuai kemampuan, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah dan meyakini bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.

Sebab manusia hanya melihat satu bagian kecil dari kehidupannya, sementara Allah mengetahui keseluruhannya.

Menerima Syariat dengan Hati yang Tunduk

Ada bentuk ketetapan Allah yang tidak boleh diperlakukan seperti sesuatu yang dapat ditawar-tawar, yaitu syariat-Nya.

Seorang Muslim bukan hanya diperintahkan untuk melaksanakan hukum Allah secara lahiriah, tetapi juga meyakini dalam hatinya bahwa hukum Allah adalah benar dan adil.

Halal adalah apa yang Allah halalkan.

Haram adalah apa yang Allah haramkan.

Tidak boleh seseorang mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan hanya karena adat dan kebiasaan. Sebaliknya, sesuatu yang telah Allah haramkan tidak menjadi halal hanya karena manusia sepakat menganggapnya boleh.

Di sinilah pentingnya ilmu.

Ketika seseorang belum memahami hikmah sebuah hukum, bukan berarti hukum tersebut tidak adil. Bisa jadi keterbatasan pemahaman kitalah yang membuat kita belum mengetahui hikmahnya.

Allah mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui seluruhnya.

Maka sikap seorang mukmin adalah belajar, memahami, kemudian tunduk kepada kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.

Syariat Tidak Bertentangan dengan Kemaslahatan

Memahami syariat juga membutuhkan ilmu dan kebijaksanaan.

Tidak semua aturan yang dibuat manusia otomatis bertentangan dengan agama.

Ada aturan yang justru membantu terwujudnya keadilan, ketertiban, keamanan, dan penjagaan hak manusia.

Misalnya pencatatan pernikahan. Pencatatan tersebut membantu memastikan kejelasan hubungan suami dan istri, status anak, serta berbagai hak yang berkaitan dengan keluarga.

Demikian pula pencatatan dalam transaksi. Islam mengenal pentingnya menjaga hak dan menghindari perselisihan. Bahkan Al-Qur'an memerintahkan pencatatan utang-piutang.

Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya terburu-buru menghakimi sesuatu hanya karena tidak menemukan bentuk teknisnya secara persis dalam pembahasan yang ia baca.

Diperlukan ilmu untuk memahami bagaimana sebuah aturan bekerja dan apakah ia bertentangan dengan syariat atau justru mendukung tujuan syariat.

Jangan Sampai Ibadah kepada Allah Disertai Kezaliman kepada Manusia

Ada pelajaran yang sangat penting dalam pembahasan tentang keadilan Allah: jangan merasa cukup hanya dengan memperbanyak ibadah kepada Allah sementara kita masih gemar menzalimi manusia.

Seseorang mungkin rajin shalat.

Rajin membaca Al-Qur'an.

Rajin menghadiri majelis ilmu.

Namun pada saat yang sama, ia mudah mencela orang lain, menyebarkan tuduhan, mengambil hak orang lain, melakukan kecurangan, atau menyakiti manusia dengan lisannya.

Ini adalah perkara yang harus ditakuti.

Sebab kezaliman terhadap manusia bukan perkara ringan.

Pada hari kiamat, harta tidak lagi menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan. Jabatan tidak dapat menyelamatkan. Popularitas tidak berguna.

Yang menjadi bekal adalah amal.

Jika seseorang memiliki amal kebaikan, amal itu dapat menjadi jalan penyelesaian atas berbagai tuntutan yang menjadi tanggungannya. Dan jika amal kebaikannya habis sementara kezalimannya masih banyak, maka perkara itu menjadi sesuatu yang sangat berat.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Sudah berapa banyak saya beribadah?"

Tetapi tanyakan pula:

"Sudahkah saya menjaga hak manusia?"

"Apakah masih ada orang yang saya zalimi?"

"Apakah masih ada hak orang lain yang belum saya kembalikan?"

"Apakah lisan saya pernah menyakiti orang lain?"

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting untuk menjadi bahan muhasabah.

Berhati-hati dengan Kezaliman di Media Sosial

Di zaman media sosial, kezaliman dapat dilakukan hanya dengan beberapa ketukan jari.

Sebuah tuduhan dapat disebarkan dalam hitungan detik. Sebuah potongan video dapat membuat seseorang mengambil kesimpulan tanpa mengetahui persoalan secara utuh. Sebuah komentar dapat menjadi fitnah yang terus tersebar jauh setelah orang yang menulisnya melupakannya.

Maka seorang Muslim harus berhati-hati.

Jika melihat seseorang melakukan kesalahan dan kita mampu memberikan nasihat dengan cara yang baik, maka nasihatilah.

Namun jika kita tidak mampu memperbaiki keadaan, jangan ikut menambah dosa dengan membalas keburukan menggunakan keburukan.

Kesalahan orang lain tidak pernah menjadi alasan bagi kita untuk melakukan kesalahan yang sama.

Jika orang lain berdusta, bukan berarti kita boleh berdusta.

Jika orang lain mencela, bukan berarti kita boleh mencela.

Jika orang lain berbuat zalim, bukan berarti kita memperoleh izin untuk berbuat zalim pula.

Seorang mukmin tetap terikat dengan syariat, siapa pun yang ada di hadapannya.

Syariat Harus Menjadi Pedoman dalam Kehidupan

Iman kepada Allah Al-Hakam tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam kepala.

Ia harus terlihat dalam kehidupan.

Ketika bekerja, seorang Muslim tetap terikat dengan syariat.

Ia tidak menipu pemilik usaha.

Ia tidak mengambil barang yang bukan haknya.

Ia tidak meminta sesuatu yang tidak menjadi haknya.

Ia tidak melakukan pungutan dengan alasan tradisi atau kebiasaan.

Ia tidak menggunakan amanah untuk keuntungan pribadi.

Begitu pula dalam kehidupan keluarga, perdagangan, pekerjaan, bermuamalah, dan bermedia sosial.

Syariat bukan hanya untuk masjid.

Syariat adalah pedoman kehidupan seorang Muslim.

Semakin kuat keimanan seseorang kepada Allah sebagai Al-Hakam, semakin besar kehati-hatiannya terhadap perkara yang Allah haramkan dan semakin kuat keinginannya untuk melakukan perkara yang Allah ridhai.

Jangan Takut Kehilangan Dunia, Takutlah Kehilangan Ridha Allah

Dunia sering membuat manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Melihat orang lain lebih kaya, ia merasa kekurangan.

Melihat orang lain memiliki jabatan, ia merasa rendah.

Melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, ia merasa hidupnya tidak adil.

Padahal kita tidak pernah mengetahui keseluruhan ujian yang sedang dijalani orang tersebut.

Jangan sampai kehidupan orang lain membuat kita lupa terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Seorang mukmin belajar bersyukur atas apa yang Allah tetapkan baginya sembari tetap berusaha memperbaiki keadaan.

Ia tidak pasrah terhadap kemalasan.

Tetapi ia juga tidak memberontak terhadap takdir.

Ia berusaha pada perkara yang dapat diusahakan dan ridha terhadap perkara yang berada di luar kemampuannya.

Inilah keseimbangan seorang mukmin.

Pada Akhirnya, Semua Akan Kembali kepada Allah

Kehidupan dunia pada akhirnya akan selesai.

Orang yang hari ini memiliki jabatan akan meninggalkannya.

Orang yang memiliki banyak harta akan meninggalkannya.

Orang yang memiliki nama besar akan meninggalkan semuanya.

Kita semua akan kembali kepada Allah dalam keadaan tidak membawa apa-apa dari dunia.

Yang akan menemani kita adalah amal.

Maka keimanan kepada Allah Al-Hakam seharusnya membuat hati kita lebih tenang ketika dizalimi, tetapi sekaligus membuat kita lebih takut ketika hendak menzalimi.

Ia membuat kita yakin bahwa keadilan Allah pasti tegak.

Ia membuat kita tidak putus asa ketika hak kita belum diperoleh.

Ia membuat kita berhati-hati agar tidak menjadi orang yang mengambil hak orang lain.

Dan yang paling penting, ia mengajarkan kita untuk tunduk kepada keputusan Allah dengan penuh keimanan.

Sebab manusia mungkin dapat menghindari keputusan manusia.

Tetapi tidak seorang pun dapat menghindari keputusan Allah.

Karena itu, sebelum hari ketika seluruh perkara dikembalikan kepada-Nya, marilah kita menyelesaikan apa yang masih dapat kita selesaikan.

Kembalikan hak orang lain.

Minta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Tinggalkan kezhaliman.

Perbaiki muamalah.

Jaga lisan.

Jaga amanah.

Dan teruslah berjalan di atas syariat Allah.

Semoga keimanan kita kepada Allah sebagai Al-Hakam dan sebaik-baik hakim tidak hanya menjadi pengetahuan yang kita ucapkan dengan lisan, tetapi menjadi keyakinan yang hidup di dalam hati dan terlihat dalam setiap perbuatan.

Sebab ketika seorang hamba benar-benar yakin bahwa Allah Maha Adil dan seluruh perkara akan kembali kepada-Nya, ia akan lebih berhati-hati dalam berbuat, lebih sabar ketika dizalimi, dan lebih takut untuk menzalimi.

Wallahu a'lam.

* Faedah Kajian Ilmiah bersama Buya Asmon Nurijal, Lc dalam pembahasan Mukhtashor Kitab Walillahil Asmaul Husna Fad'uhu Biha, Masjid Sabilul Haq Solok, Senin, 21 September 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!