Artikel

Ketaatan Terhadap Pemimpin dan Pentingnya Menjaga Persatuan

D

Posted by. Deli Hermanto

21 September 2026 20:43 • 16 view

Share:
Ketaatan Terhadap Pemimpin dan Pentingnya Menjaga Persatuan
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Dalam kehidupan seorang Muslim, ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan perkara yang paling utama. Dari ketaatan itulah lahir ketakwaan, dan dari ketakwaan seseorang belajar menempatkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya.

Di antara perkara yang ditekankan dalam ajaran Islam adalah pentingnya mendengar dan menaati pemimpin dalam perkara yang ma'ruf. Namun, ketaatan kepada manusia bukanlah ketaatan mutlak. Apabila seseorang diperintahkan melakukan kemaksiatan kepada Allah, maka tidak ada kewajiban untuk menaati perintah tersebut.

Inilah kaidah yang harus dipahami dengan baik: tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perkara maksiat kepada Allah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberikan perhatian besar terhadap perkara kepemimpinan. Bahkan, keberadaan pemimpin merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Sebab manusia tidak mungkin menjalani kehidupan secara teratur tanpa adanya pihak yang mengatur, menjaga keamanan, menegakkan hukum, melindungi masyarakat, serta menjaga keutuhan umat.

Kepemimpinan dan Kemaslahatan Manusia

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam kebersamaan. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda-beda, kemampuan yang berbeda, bahkan keinginan yang berbeda. Karena itu, dibutuhkan aturan dan kepemimpinan agar kehidupan tidak berubah menjadi kekacauan.

Dalam ceramah tersebut dijelaskan bahwa kemaslahatan manusia tidak akan sempurna kecuali dengan adanya persatuan dan keteraturan. Bahkan dalam kelompok kecil sekalipun, ketika tiga orang melakukan perjalanan, dianjurkan adanya seorang pemimpin di antara mereka.

Jika dalam perjalanan yang hanya terdiri dari beberapa orang saja dibutuhkan pemimpin, terlebih lagi dalam kehidupan masyarakat yang jumlahnya jauh lebih besar.

Tanpa kepemimpinan, manusia dapat saling menzalimi. Hak-hak dapat terabaikan, keamanan dapat hilang, dan hukum tidak dapat ditegakkan dengan baik.

Karena itu, kepemimpinan bukan sekadar persoalan kedudukan atau kekuasaan. Ia merupakan amanah besar yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia.

Ketaatan Tidak Berarti Membenarkan Kemaksiatan

Ketaatan kepada pemimpin memiliki batas yang jelas. Seorang Muslim wajib menaati pemimpin dalam perkara yang ma'ruf, tetapi apabila diperintahkan melakukan kemaksiatan, maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.

Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan lainnya.

Seorang anak wajib berbakti kepada orang tuanya. Namun apabila orang tua mengajak kepada kesyirikan atau kemaksiatan, maka ajakan tersebut tidak boleh diikuti, meskipun seorang anak tetap diperintahkan untuk memperlakukan kedua orang tuanya dengan baik.

Demikian pula seorang istri wajib menaati suaminya dalam perkara yang ma'ruf. Tetapi apabila suami memerintahkan kemaksiatan, maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.

Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan ketaatan yang membutakan. Ketaatan seorang Muslim selalu berada di bawah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketika Terjadi Perselisihan

Salah satu perkara yang sangat berbahaya dalam kehidupan umat adalah munculnya perselisihan yang kemudian berkembang menjadi pemberontakan dan pertumpahan darah.

Ketika terjadi perselisihan, jalan yang ditempuh bukanlah memperbesar permusuhan, menyebarkan fitnah, atau mengobarkan kebencian. Sebaliknya, perlu dilakukan dialog, penjelasan, dan upaya mengembalikan manusia kepada kebenaran.

Sebab terkadang seseorang melakukan kesalahan karena pemahaman yang keliru. Ada pula yang sejak awal memiliki niat yang tidak baik. Kedua keadaan ini perlu dibedakan.

Apabila seseorang melakukan kesalahan karena salah memahami suatu perkara, maka penjelasan dan nasihat menjadi bagian penting dalam mengembalikannya kepada kebenaran.

Di sinilah pentingnya ilmu. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan emosi. Tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan.

Bahaya Pemikiran yang Memecah Belah

Dalam pembahasannya, Buya Muhammad Elvi Syam juga mengingatkan tentang bahaya pemikiran Khawarij, khususnya ketika suatu pemikiran berkembang menjadi tindakan yang mengkafirkan kaum Muslimin, menghalalkan darah mereka, kemudian berujung pada pemberontakan terhadap penguasa.

Benih-benih perpecahan terkadang bermula dari sebuah gagasan yang tampak sederhana. Kemudian gagasan tersebut berkembang menjadi sikap fanatik, mudah menuduh, mudah mengkafirkan, hingga akhirnya seseorang merasa darah kaum Muslimin menjadi halal.

Karena itu, pemikiran yang menyimpang tidak boleh dibiarkan berkembang tanpa ilmu dan nasihat. Namun penyelesaian terhadap persoalan seperti ini juga harus ditempatkan dalam kerangka ilmu, keadilan, dan aturan yang benar.

Sejarah menunjukkan betapa besar dampak fitnah ketika umat kehilangan sikap hati-hati. Perselisihan yang awalnya berupa perbedaan pemahaman dapat berubah menjadi konflik besar ketika disertai provokasi dan fanatisme.

Maka seorang Muslim hendaknya berhati-hati terhadap berita, isu, dan provokasi yang dapat memecah persatuan.

Mendoakan Pemimpin

Di antara sikap yang ditekankan dalam ceramah adalah mendoakan pemimpin.

Seorang Muslim hendaknya tidak menjadikan kebencian kepada seorang pemimpin sebagai alasan untuk meninggalkan adab. Jika melihat kekurangan atau kesalahan, maka nasihat dan doa tetap memiliki tempat yang besar.

Para khatib pun diingatkan agar menyelipkan doa untuk pemimpin kaum Muslimin.

Sebab mendoakan kebaikan bagi pemimpin pada hakikatnya juga merupakan doa agar masyarakat mendapatkan kebaikan. Ketika seorang pemimpin mendapatkan petunjuk dan memiliki orang-orang di sekelilingnya yang memberikan nasihat dengan tulus, diharapkan keputusan-keputusan yang diambil dapat membawa kemaslahatan yang lebih luas.

Sesi Tanya Jawab

Bagaimana melupakan peristiwa yang pernah menyakitkan?

Tidak semua luka mudah hilang.

Ada peristiwa yang mungkin telah berlalu bertahun-tahun, tetapi ketika teringat kembali, hati masih terasa berat. Ada perkataan yang masih membekas. Ada perlakuan yang sulit dilupakan. Ada orang yang mungkin telah pergi dari kehidupan kita, tetapi kesalahannya masih tinggal di dalam ingatan.

Di sinilah keimanan kepada takdir memberikan kekuatan.

Seorang Muslim meyakini bahwa apa yang telah terjadi berada dalam ilmu dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bukan berarti seseorang membenarkan kezaliman atau menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang baik. Tetapi seorang Mukmin belajar menerima bahwa peristiwa yang telah berlalu tidak dapat diubah.

Yang dapat diubah adalah cara kita menyikapinya.

Ketika musibah menimpa, seorang Muslim diperintahkan untuk melakukan introspeksi, mengingat dosa-dosanya, kembali kepada Allah, dan memperbaiki diri.

Peristiwa yang menyakitkan jangan sampai berubah menjadi alasan untuk terus hidup dalam kebencian.

Memaafkan memang tidak selalu mudah.

Seseorang mungkin berkata, "Saya sudah memaafkan," tetapi ketika peristiwa itu kembali teringat, rasa sakit kembali muncul.

Itulah manusia.

Namun, berusaha memaafkan adalah bagian dari perjuangan hati. Sebab selama seseorang terus menyimpan kesalahan orang lain, sesungguhnya ia juga sedang memelihara luka di dalam dirinya sendiri.

Setiap kali mengingat kesalahan tersebut, hatinya kembali terbebani.

Sebaliknya, ketika seseorang memilih memaafkan karena mengharap ampunan Allah, perlahan-lahan beban itu dapat berkurang.

Kita semua membutuhkan ampunan Allah.

Setiap hari manusia berbuat salah. Berkali-kali manusia melakukan dosa, kemudian memohon ampun kepada Allah. Jika kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita yang begitu banyak, maka kita pun hendaknya belajar memberikan maaf kepada sesama manusia.

Bukan karena kesalahan mereka kecil.

Bukan pula karena apa yang mereka lakukan tidak menyakitkan.

Tetapi karena kita ingin mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar: ampunan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Menutup Pintu Fitnah, Membuka Pintu Maaf

Dari pembahasan tentang kepemimpinan hingga persoalan memaafkan, terdapat satu pelajaran besar yang dapat kita renungkan: jangan menjadi sebab lahirnya kerusakan dan perpecahan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas. Jangan mudah terprovokasi. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.

Dan dalam kehidupan pribadi, jangan biarkan luka masa lalu menguasai hati.

Ada saatnya kita harus berhenti mengulang-ulang peristiwa yang telah berlalu. Bukan karena kita tidak pernah terluka, tetapi karena kita ingin melanjutkan kehidupan dengan hati yang lebih ringan.

Memaafkan memang membutuhkan perjuangan.

Tetapi boleh jadi, di balik satu keputusan untuk memaafkan, Allah membukakan pintu ketenangan yang selama ini kita cari.

Pada akhirnya, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk menjaga hubungan dengan Allah, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Taat dalam perkara yang ma'ruf, menjauhi kemaksiatan, menjaga persatuan, tidak mudah terprovokasi, mendoakan kebaikan, dan belajar memaafkan merupakan bagian dari perjalanan seorang hamba menuju ketakwaan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memperbaiki keadaan kaum Muslimin, memberikan petunjuk kepada para pemimpin, menjaga persatuan umat, menjauhkan kita dari fitnah dan perpecahan, serta membersihkan hati kita dari dendam dan kebencian.

Semoga Allah juga memberikan kepada kita kekuatan untuk menerima takdir-Nya, mengambil pelajaran dari setiap musibah, dan menjadi hamba yang mudah memaafkan karena mengharapkan ampunan-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

* Faedah Kajian Ilmiah bersama Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA di Masjid Al Hakim Nanggalo Padang, Senin, 21 September 2026, dalam pembahasan Kitab Mulakhos Al Fiqhi

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!