Artikel

One Way: Satu Arah di Jalan yang Haq

D

Posted by. Deli Hermanto

24 September 2026 20:44 • 29 view

Share:
One Way: Satu Arah di Jalan yang Haq
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

One Way: Satu Arah di Jalan yang Haq

Tabligh Akbar

Narasumber: Ustadz Subhan Bawazier, Lc

Kamis, 24 September 2026 M | 11 Rabi’ul Akhir 1448 H, Ba’da Maghrib hingga selesai di Masjid Raya Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Ada begitu banyak jalan yang ditawarkan manusia dalam kehidupan. Ada jalan untuk mengejar dunia, jalan untuk mencari popularitas, jalan untuk mendapatkan kekayaan, bahkan jalan-jalan pemikiran yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Namun dalam perkara agama, seorang Muslim tidak boleh menjadikan banyaknya jalan sebagai alasan untuk membenarkan semuanya. Sebab, kebenaran yang berasal dari Allah tidak berbilang.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menggambar sebuah garis lurus di hadapan para sahabat seraya bersabda bahwa inilah jalan Allah yang lurus. Kemudian, beliau menarik garis-garis lain yang banyak di kanan dan kirinya, lalu menjelaskan bahwa jalan-jalan cabang tersebut dipimpin oleh setan yang mengajak manusia menuju kesesatan.

Garis lurus ini melambangkan kebenaran yang tidak berbilang. Dalam agama kita, kebenaran itu satu: apa yang difirmankan oleh Allah, disabdakan oleh Rasul-Nya, dan dipahami serta diamalkan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Hidup di dunia ini sejatinya hanyalah perpindahan dari satu ujian ke ujian berikutnya. Kita tidak perlu membuat hal-hal baru dalam syariat. Segalanya telah sempurna. Takdir seluruh makhluk telah tertulis di Lauhul Mahfuzh 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, bahkan rezeki, ajal, amal, serta jalan hidup kita telah ditetapkan semenjak kita masih berusia empat bulan di dalam kandungan ibu.

Agama ini mudah (inna ad-dina yusr). Menjadi terasa rumit dan memberatkan ketika kita mengambil keputusan yang melampaui batas dan melalaikan tujuan utama penciptaan:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)

Allah telah berjanji di dalam Al-Qur'an:

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah)...”
(QS. An-Nahl: 97)

Syarat kehidupan yang baik itu jelas: beriman dan beramal saleh sesuai tuntunan Rasulullah, bukan mengikuti hawa nafsu atau bercabang-cabang di luar koridor syariat.

Menuntut Ilmu dan 6 Syarat Menurut Imam Asy-Syafi'i

Sering kali kita hadir di berbagai majelis ilmu, namun ilmu tersebut tidak meninggalkan bekas dalam perilaku kita. Menuntut ilmu bukan sekadar datang untuk euforia, berfoto, atau membuat status di media sosial. Menuntut ilmu menuntut adab dan kesungguhan.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berwasiat tentang enam perkara agar seseorang berhasil meraih ilmu yang hakiki:

  1. Dzakā’un (Kecerdasan): Cerdas dalam memahami niat dan tujuan hadir ke majelis taklim, bukan sekadar ikut meramaikan.
  2. Hirshun (Kemauan yang Kuat/Antusiasme): Keinginan kuat untuk berubah menjadi lebih baik. Tanpa hirsh, maksiat dianggap lumrah dan azab dipandang sekadar fenomena alam biasa. Padahal umur umat Nabi Muhammad rata-rata hanya antara 60 hingga 70 tahun; masa produktif sangat terbatas.
  3. Ijtihādun (Kesungguhan): Bekerja keras dan bersungguh-sungguh. Rezeki memang telah dijamin oleh Allah, namun manusia dituntut untuk berusaha dan bertawakal layaknya burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.
  4. Bulghatun (Modal/Biaya): Pengorbanan harta untuk menuntut ilmu dan mencari rida Allah, sebagaimana para sahabat yang rela membeli kuda terbaik demi mengejar satu hadis Nabi.
  5. Shuhbatu Ustādz (Mendampingi Guru): Memilih lingkaran pertemanan yang saleh serta dekat dengan para asatidz dan ulama agar hidup kita terarah dan terbimbing.
  6. Thūlu Zamān (Waktu yang Panjang): Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran, proses, dan waktu yang panjang, bukan sesuatu yang instan.

Sejarah, Tauhid, dan Fondasi Bangsa

Masyarakat Minangkabau dan bangsa Indonesia memiliki rekam jejak ulama serta pejuang yang luar biasa:

  • Tuanku Imam Bonjol: Dibuang ke Manado dalam Perang Padri, namun mutiara tetaplah mutiara; beliau tetap memberi pengaruh kebaikan hingga melahirkan perkampungan di pengasingan.
  • Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Ulama besar asal Minangkabau yang menjadi imam dan guru besar di Masjidil Haram.
  • Buya Hamka dan Rahmah El Yunusiyyah: Tokoh-tokoh dakwah dan pelopor pendidikan Islam perempuan yang kiprahnya diakui dunia.

Para pendahulu kita meletakkan fondasi kemerdekaan negeri ini di atas kesadaran spiritual yang tinggi, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa...”

Keadilan sosial, persatuan, dan peradaban yang beradab tidak akan terwujud tanpa berpegang teguh pada prinsip Tauhid: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tanya Jawab

Pertanyaan 1:

Assalamu’alaikum, Ustadz. Bagaimana cara memastikan bahwa kita sudah benar-benar berada di atas satu jalan yang lurus tersebut?

Jawaban:

Tolak ukurnya adalah dalil. Pastikan setiap keyakinan dan amalan yang kita kerjakan berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat (dalil naqli).

Ibarat membaca buku referensi, pilihlah yang memiliki rujukan yang jelas dan catatan kaki yang terpercaya. Gantungkan segala urusan hanya kepada Allah (Allahush-Shamad) dan mintalah pertolongan dengan memperkuat sabar dan salat.

Pertanyaan 2:

Assalamu’alaikum, Ustadz. Terkadang keinginan kuat untuk menuntut ilmu terbentur oleh kesibukan mencari nafkah untuk anak dan istri. Bagaimana kiat agar semangat menuntut ilmu tetap terjaga di tengah keterbatasan waktu?

Jawaban:

Tumbuhkan tekad dan niat yang kuat (hirsh). Jika niat telah lurus dan kuat, Allah akan membukakan jalan kemudahan.

Hari ini kita dimudahkan dengan berbagai sarana teknologi:

  • Kajian dapat disimak melalui siaran daring, rekaman audio, maupun pertemuan video virtual (Zoom).
  • Kita tidak dituntut membaca manuskrip kuno seperti para ulama terdahulu; referensi dan fatwa telah dibukukan serta mudah diakses.
  • Manfaatkan waktu luang bersama komunitas, misalnya dengan mengadakan kajian daring singkat selama 30 menit bersama asatidz.

Di mana ada kemauan dan kesungguhan, di situ Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memudahkan jalan kita menuju ilmu. Insyaallah.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!