Artikel

Menahan Emosi dan Amarah & Tanda Bersihnya Hati

D

Posted by. Deli Hermanto

26 September 2026 07:28 • 29 view

Share:
Menahan Emosi dan Amarah & Tanda Bersihnya Hati
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallama ‘ala nabiyyina wa rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Kaum muslimin dan muslimah, para pemirsa Surau TV yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, alhamdulillah kita senantiasa memuja dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala karunia, rahmat, serta kenikmatan-Nya. Begitu banyak kenikmatan yang Allah curahkan kepada kita semua, dan kita tidak akan pernah mampu menghitung-hitung nikmat tersebut. Sebagaimana firman Allah, jika engkau menghitung nikmat Allah, niscaya engkau tidak akan mampu menghitungnya.

Di antara bentuk syukur kita atas segala kenikmatan tersebut adalah dengan terus meningkatkan ibadah dan ketakwaan kita kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarga, putra-putri, dan istri-istri beliau, para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Pada pagi hari ini, kita mengawali hari dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala: menunaikan shalat Shubuh berjamaah, berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan di antaranya adalah dengan menuntut ilmu. Pagi ini kita melanjutkan kembali pembelajaran dalam kitab Ahaditsul Iman (Kumpulan Hadits Seputar Keimanan). Melanjutkan pembahasan sebelumnya, kita sampai pada rukun akhlak yang mulia.

Rukun Ketiga: Menahan Emosi dan Amarah

Penulis (hafizhahullahu ta'ala) menyebutkan bahwa rukun akhlak yang ketiga adalah tidak mengikuti dorongan emosi jiwa, khususnya yang berkaitan dengan kemarahan. Hal ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: "La taghdhab" (Janganlah engkau marah).

Makna dari "jangan marah" di sini adalah jangan melampiaskan amarah tersebut. Ketika seseorang terbawa emosi atau amarahnya sedang memuncak, hendaknya ia menahan diri untuk tidak langsung melampiaskannya melalui ucapan maupun perbuatan. Stop kata-kata, stop tindakan.

Hadits ini berawal ketika seorang laki-laki datang meminta wasiat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Para ulama menjelaskan, boleh jadi sahabat yang bertanya tersebut adalah orang yang bertemperamen tinggi atau mudah marah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kerap kali memprofiling para penanya untuk memberikan nasihat yang paling tepat dan relevan sesuai kebutuhan personal mereka.

Terkait bahaya kemarahan, ada ungkapan yang sangat masyhur: "Awal kemarahan adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan." Siapa pun orangnya—baik seorang profesor, cendekiawan, maupun orang kaya—ketika sedang marah, ia bertindak di luar kendali akal sehatnya layaknya orang yang hilang kesadaran. Jika ia membiarkan dirinya bertindak dalam kondisi tersebut, ujungnya hanyalah penyesalan.

Oleh sebab itu, syariat memberikan petunjuk konkret untuk meredam amarah:

1. Membatasi pergerakan fisik

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaknya ia duduk. Jika amarahnya belum reda, maka hendaknya ia berbaring. Logikanya, saat berdiri, ruang gerak seseorang sangat luas; tangan bisa memukul, melempar, dan kaki bisa menendang. Dengan duduk atau berbaring, gerak fisik dipersempit sehingga potensi kerusakan dapat diminimalkan.

2. Memohon perlindungan kepada Allah (Ta'awwudz)

Membaca A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim. Saat seseorang berada di puncak amarah, ia berada dalam kondisi jiwa yang sangat lemah, dan di sanalah setan masuk untuk memprovokasi, menguasai, serta mengendalikannya.

3. Menjaga lisan dengan diam

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam." Mengunci lisan saat emosi sangat penting agar tidak keluar ucapan yang mengundang murka Allah, kata-kata kotor, caci maki, atau talak yang terlontar secara serampangan.

Di era media sosial saat ini, kita sering menyaksikan orang-orang yang tidak mampu mengontrol emosinya—baik lewat perkataan maupun ketikan—yang akhirnya berujung pada keharusan membuat klarifikasi dan permohonan maaf. Akhlak seseorang justru paling teruji ketika ia menghadapi hal-hal yang tidak ia sukai: ketika ditegur, disalahkan, dirugikan, atau diperlakukan tidak adil.

Rukun Keempat: Keselamatan dan Kebersihan Hati (Salamatus Shadr)

Rukun akhlak mulia yang keempat adalah kebersihan hati (salamatus shadr), yakni hati yang selamat dari berbagai penyakit batin terhadap sesama kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

Yang dimaksud dengan salamatus shadr adalah hati yang bersih dari rasa benci, hasad, iri, dendam (hiqd), serta permusuhan tersembunyi (sakha'im). Sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an:

"...Dan janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman..." (QS. Al-Hasyr: 10)

Kebersihan hati adalah fondasi utama berdirinya akhlak yang luhur. Seseorang yang batinnya rusak tidak akan mampu menampilkan akhlak yang murni, sebab kondisi batin akan selalu terpancar pada perbuatan lahiriahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan:

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."

Ketika ditanya mengenai hakikat dosa, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa dosa adalah apa yang mengganjal dan menggelisahkan hatimu. Hati yang sehat memiliki sensitivitas tinggi; ia bagaikan sensor yang peka terhadap maksiat. Sebaliknya, hati yang terus-menerus dikotori oleh dosa akan kehilangan kepekaannya. Sebagaimana sabda beliau:

"Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu dosa, akan ditorehkan satu titik hitam di dalam hatinya."

Jika dosa terus bertumpuk tanpa tobat, titik hitam tersebut akan menutupi seluruh hati (ar-ran). Akibatnya, seseorang bisa berbuat maksiat atau mengghibah orang lain tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.

Cara Menyucikan Hati dan Dampak Dosa

Bagaimana cara kita membersihkan hati dari noda-noda tersebut? Di antaranya adalah dengan memperbanyak istighfar:

Astaghfirullah, atau Astaghfirullah wa atubu ilaih.

Saat kita beristighfar, ada dua permohonan utama yang kita panjatkan:

  1. Memohon agar Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dan menghapus dosa-dosa kita.
  2. Memohon agar Allah menutupi aib serta menahan dampak buruk dari dosa tersebut.

Para ulama mengingatkan bahwa kemaksiatan memiliki dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari—termasuk ketegangan hubungan suami-istri, perubahan sikap anak, hingga gangguan kecil di rumah. Karena itu, memperbanyak istighfar menjadi sarana vital agar hati kembali bersih dan fitrah.

Kesimpulan: Empat Rukun Akhlak

Syaikh menjelaskan bahwa empat pilar utama akhlak yang mulia adalah:

  1. Menjaga lisan (shiyanatul lisan): Tidak berkata kecuali yang bermanfaat.
  2. Meninggalkan hal yang sia-sia (tarku ma la ya'nih): Menjauhi perkara yang tidak mendatangkan faedah.
  3. Mengendalikan emosi dan amarah: Menahan diri dari tindakan dan ucapan saat marah.
  4. Kebersihan hati (salamatus shadr): Bebas dari dendam, iri hati, dan permusuhan.

Muara dari keempat pilar ini adalah hati (al-qalb). Apabila hatinya bersih, lisannya akan terjaga, tindakannya menjadi santun, dan emosinya terkendali.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah, akhlak mulia itu tercermin dalam tiga hal:

  • Kafful adza (menahan diri agar tidak menyakiti atau mengganggu orang lain),
  • Badzlun nada (gemar menebarkan kebaikan dan cepat menolong),
  • Thalaqatul wajh (wajah yang ramah dan murah senyum).

Memperbaiki akhlak memang memerlukan perjuangan dan latihan (mujahadah). Akhlak bisa diubah, karena jika tidak bisa diubah, tentu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Keimanan berbanding lurus dengan akhlak: semakin sempurna iman seseorang, semakin indah pula tutur kata dan perilakunya.

Mari kita senantiasa memanjatkan doa:

Allahummahdina li ahsanil akhlaq, la yahdi li ahsaniha illa Anta (Ya Allah, tunjukilah kami kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan Engkau).

Alhamdulillah, pembahasan hadits ke-19 ini telah kita selesaikan, dan insya Allah akan kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya di hadits ke-20. Semoga Allah meluruskan niat kita dan mencatat majelis ilmu ini sebagai pemberat timbangan amal saleh di akhirat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* Faedah Kajian Kitab bersama Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, M.M di Studio Surau TV, Sabtu, 26 September 2026, dalam pembahasan Kitab Ahaditsul Iman Hadits 19 Bag. 4

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!